Masyarakat Kecewa: Thong-Thong Lek Digelar secara Terpusat, Ini Konfirmasi Bupati Rembang

Avatar photo

REMBANG, Jateng – Menanggapi rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang yang akan menggelar thong-thong lek di satu titik saja, banyak masyarakat yang menyayangkan keputusan tersebut. Pasalnya banyak masyarakat yang menantikan festival yang digelar setahun sekali tersebut.

Berbagai respon pun diberikan oleh masyarakat lewat media sosial, terutama Facebook. Namun, sebagian dari mereka masih berharap acara thong-thong lek tetap dilakukan dengan cara pawai keliling, seperti sebelum pandemi.

Belum lagi, apabila ditilik dari segi perekonomian, pemusatan acara tersebut akan berpengaruh pada pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), mulai penyewaan sound system dan truk pengangkut, pelaku seni hingga pedagang.

Saya milih keliling karena biar pedagang bisa berdagang disitu dan persewaan sound, mobil, pembuat dekorasi juga laku, kasihan yg terdampak seperti penyewa sound, pedagang dll, biar dapat penghasilan buat lebaran, lagian kalau dipusat pada males nonton karena pasti bakal uyel-uyelan (desak-desakan) dan nggak kelihatan yg bagian belakang,” komentar salah satu pengguna Facebook mengomentari rencana gelaran thong-thong lek.

Selain itu, gelaran acara secara terpusat disebut dapat menghilangkan tradisi yang sudah dijaga oleh masyarakat Rembang setiap tahunnya.

Ilang tradisine (hilang tradisinya),” ungkap salah satu pengguna lainnya.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz segera melalukan konfirmasi terkait tradisi budaya thong-thong lek tersebut. Pihaknya mengaku akan terus berupaya melestarikan budaya dengan mengembalikannya seorisinal mungkin.

”Thong-thong lek ini kita kembalikan ke orisinal. Jangan menjadi berubah-ubah elektrik dan macam-macam,” ujarnya.

Bupati juga menegaskan bahwa keputusan pelaksanaan thong-thong lek di satu titik tersebut merupakan hasil dari musyawarah bersama dengan berbagai pihak, mulai dari TNI, Polri, hingga Dinas Lingkungan.

Menurutnya, ada beberapa dampak yang perlu dipertimbangkan jika acara tetap dilakukan secara pawai keliling. Salah satunya adalah adanya kemungkinan kerusakan tanaman karena terinjak-injak. Apalagi, perawatan tanaman tersebut membutuhkan biaya yang besar.

“Ini yang rugi masyarakat Rembang. Jadi orang boleh bicara apa saja, tetapi fakta ini yang perlu dipertimbangkan,” jelasnya.

Sumber: mitrapost.com

 

Polres Banjarnegara, Kapolres Banjarnegara, Pemkab Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara, Banjarnegara, Polres Rembang, Kapolres Rembang, Pemkab Rembang, Kabupaten Rembang, Rembang, AKBP Hendri Yulianto, Hendri Yulianto, AKBP Dandy Ario Yustiawan, Dandy Ario Yustiawan, Polda Jateng, Jateng, PoldaJawaTengah, JawaTengah, Polri, Polrestabes Semarang, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kodya Semarang, Polres Batang, Kabupaten Batang, Pemkab Batang, Batang, Polres Pati, Kabupaten Pati, Pemkab Pati, Pati, Polres Demak, Kabupaten Demak, Pemkab Demak, Demak, Polisi, Kalbar, Polda Kalbar, KalimantanBarat